sisi lain dari warisan agama kaum muda

we ‘ar young


Kita adalah orang beragama sejak dalam kandungan. Agama itu pulalah yang melekat kala kita mulai menjalani hidup di dunia ini. Agama-agama di dunia memang diwariskan turun-temurun dari generasi ke generasi.

Agama mengatur sikap dan tingkah laku seseorang. Tak hanya itu, agama juga menyelaraskan hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan Sang Pencipta. Sayangnya, agama kini malah menjadi alasan manusia bermusuhan, bertikai, bahkan menyakiti satu sama lain.

Di berbabagai tempat, agama-agama ditunggangi oleh bermacam kepentingan, baik pribadi maupun kelompok. Seperti kebanyakan kepentingan, tentulah hanya menguntungkan segelintir orang saja dan menimbulkan persoalan dalam diri banyak orang. Agama dipakai untuk mendiskreditkan kebebasan seseorang, mendiskriminasi keberadaaan manusia, serta mengerdilkan hak asasi manusia.

Sedikit banyak, itu jugalah yang terjadi di Indonesia. Tak sedikit kalangan yang menggunakan soal agama untuk mengalahkan lawan politiknya. Demikianlah agama, biasanya menjelang pemilihan kepala daerah, dipakai untuk melukai orang lain dengan menghambat karier politiknya. Kebenaran yang diajarkan agama pun menjadi hambar.

Tak heran banyak kalangan mulai meragukan pentingnya agama dalam kehidupan. ”Buat apa beragama kalau hanya untuk saling menyakiti. Mending tak beragama sama sekali,” cibir kawula muda.

Cibiran anak muda itu seharusnya membuat kita semakin menyadari untuk menyelaraskan kata dan perbuatan. Tanpa itu, agama akan ditinggalkan. Dan ketika agama ditinggalkan para penganutnya kesemrawutan dalam masyarakat mungkin malah makin parah. Sebab setiap orang berpegang pada apa yang dianggapnya benar, yang berujung pada anggapan: ”Akulah yang paling benar!”.


Paparan lain tentang kutipan artikel diatas;



download

jesus statue 8

Posted in ArtikelTagged