Sejarah HKBP

logo-hkbp

“H-K-B-P DARI GENERASI KE GENERASI”

 

16-jesus-240hd1115-file

HKBP DARI MASA KE MASA – HKBP KRAMATJATI

 

SEJARAH HKBP

Sejarah dan penamaan HKBP berasal dari singkatan nama para pendeta missionaris missionaris yang tinggal melayani ditapanuli saat itu, yakni :
H dari Heine,
K dari Klammer,
B dari Betz, dan
P dari V (Van Asselt) menjadi Pan Asselt,

keaslian orang Batak memang sama sekali tidak memiliki huruf V atau bahkan huruf F, huruf atau aksara yang bukan bagian dari aksara Batak khususnya Batak Toba.

Berawal dari singkatan nama para missionaris kemudian utuh disempurnakan menjadi Huria Kristen Batak Protestan (H.K.B.P) Sepadan dengan kultur budaya Batak yang lebih bermakna dan menunjukkan jati diri yang lebih sesuai.Suku bangsa Batak yang terdiri dari sub suku:

Batak Toba, Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Pakpak, dan Batak Mandailing, selama ribuan tahun hidup di daerah pegunungan dan dataran tinggi yang berada pada ketinggian antara 300-1500 diatas permukaan laut Pem.Kab. Sumatera Utara.

Secara astronomis Kabupaten Tapanuli Utara berada pada posisi 1º20′ – 2º41′ Lintang Utara dan 98 º05’ –99 º16’ Bujur Timur. Sedangkan secara geografis letak Kabupaten Tapanuli Utara diapit atau berbatasan langsung dengan lima kabupaten yaitu, di sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Toba Samosir;di sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Labuhan Batu;disebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Tapanuli Selatan; dan di sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Humbang Hasundutan dan Tapanuli Tengah.

 

Letak dan astronomis Kabupaten Tapanuli Utara ini sangat menguntungkan karena berada pada jalur lintas dari beberapa Kabupaten di Propinsi Sumatera Utara.Tiap sub suku Batak ini memiliki bahasa dan aksara (tulisan) sendiri, yang hampir sama satu dengan lainnya.
Meskipun wilayah di sebelah utara dan selatan telah memeluk agama Islam sejak abad ke-13 (Aceh) dan abad ke-16 (Minangkabau), tetapi agama itu bahkan kekuasaan apa pun, tidak berhasil memasuki tanah Batak. Orang-orang Batak mempertahankan kebudayaan sendiri, walau pun mereka tidak segan-segan mengambil unsur-unsur dari agama lain.
HKBP Huria Kristen Batak Protestan, yang artinya adalah Gereja Kristen Batak Protestan. HKBP dapat berdiri sebagaimana adanya saat ini, merupakan buah dari Pekabaran Injil yang dilakukan oleh misionaris dari Amerika dan Eropa. Melalui proses dan perjalanan yang panjang, akhirnya Terang Kristus dapat memasuki Tanah Batak, sebagai jawaban dari doa, kerja keras, ketekunan dan pengorbanan para Pekabar Injil dan gereja yang mengutusnya yang dilakukan dengan sungguh-sungguh.

 

HKBP generasi masa ke masa

A. Pekabaran Injil di Sumatera

Berawal dari informasi tentang ditemukannya jalan ke timur, dan Gereja telah mulai berdiri di Indonesia, maka Gereja-gereja dan Lembaga Pekabaran Injil di Eropah dan Amerika merasa terpanggil untuk memberitakan injil ke Indonesia.

Pada tahun 1820 British Baptist Church dari Inggris mengutus pekabar injil Ward ke Bengkulu, Evans ke Padang dan Burton ke Sibolga. Di daerah pantai pengaruh Islam amat besar kepada penduduk setempat, sehingga Ward meninggal-kan Bengkulu dan bergabung dengan Burton ke Sibolga. Burton menyadari bahwa usaha pekabaran injil di Sumatera mustahil akan berakar apabila Alkitab tidak di-terjemahkan ke dalam bahasa masyarakat setempat. Burton mempelajari bahasa dan tulisan Batak Toba dan mencoba menerjemahkan fasal I Alkitab ke dalam bahasa dan tulisan Batak Toba. Burton dan Ward memutuskan untuk masuk ke pedalaman, dan pada tahun 1824 mereka berangkat melalui jalan setapak yang penuh onak dan duri serta bahaya binatang buas (harimau, ular, dan lain-lain), dan tiba di Silindung dengan membawa Alkitab yang telah mereka terjemahkan itu.

Mereka mengadakan pendekatan yang baik kepada penduduk dan mulai memberitakan injil. Akan tetapi penduduk Silindung menolak mereka dengan sopan, dan setelah dijamu dengan baik dan meriah, mereka disuruh pulang. Mereka pulang dari Silindung tetapi mereka meninggalkan Alkitab dalam tulisan dan bahasa Batak Toba. Setelah beberapa bulan lagi di Sibolga, Burton berangkat ke India, dan Ward ke Padang.

Dengan berakhirnya pemerintahan Inggeris di Indonesia, dan gagalnya kedua pekabar injil tersebut, maka berakhir pulalah usaha pekabaran Injil dari pihak Inggeris di Sumatera. Namun hal ini tidak luput dari perhatian pekabar Injil dari Belanda. Pada tahun 1826, NZG mengutus Gutzlaff ke Sumatera, tetapi karena berkobarnya Perang Paderi (Bonjol), maka ia tidak dapat pergi ke Padang, dan akhirnya ia tinggal di Jakarta dan mencurahkan perhatiannya pada pekabaran Injil di kalangan penduduk Cina di Jakarta (Batavia).

Perang Paderi berusaha mengusir Belanda dari Minangkabau, tetapi Imam Bonjol ditangkap dan dibuang. Sisa-sisa pasukan “Paderi” yang dipimpin oleh Pokki Nangol-ngolan (Gelar Tuanku Rao), lari ke utara, menyerang dan menindas di daerah Angkola sampai ke Silindung dan Toba. Ketika itulah banyak orang Batak Mandailing/Angkola memeluk agama Islam. Setelah Belanda dapat menguasai keadaan di Minangkabau, terciptalah sementara keadaan damai di Sumatera. Keadaan ini dimanfaatkan lembaga-lembaga pekabaran Injil di Eropa untuk mengadakan penyelidikan ke pedalaman Sumatera dengan mengutus Dr. Junghun (antropolog Jerman), yang menulis buku “Daerah Batak di Sumatera”.
B. Masuknya Injil di Tanah Batak

American Baptist Foreign Mission Society (Boston) mengutus pekabar Injil yang bernama Samuel Munson dan Henry Lyman ke Sumatera. Kedua pekabar Injil itu menemui Ward di Padang untuk mengetahui keadaan Tanah Batak. Ward mem-beritahukan jalan ke Silindung dan kebaikan orang Batak serta adat-istiadat Batak Toba. Munson dan Lyman berangkat ke Sibolga, dan setelah beberapa lama di Sibolga mereka berangkat ke Silindung. Setelah lima hari menempuh perjalanan yang sangat sukar, mereka tiba di Sisangkak, Lobu Pining. Mereka disambut sorak-sorai penduduk yang bersenjata, yang dipimpin oleh Raja Panggalamei. Kedua pendeta itu dibunuh dan martir pada tanggal 28 Juli 1834.

Kurang lebih 75 tahun kemudian, HKBP mendirikan tugu peringatan di tempat itu dengan menuliskan ungkapan Agustinus: “mudar ni halak martir, ido boni ni barita ni Tuhan Jesus” (Darah para martir merupakan benih bagi penginjilan). Gereja Baptis Amerika mengirimkan lagi pekabar Injil bernama Ennis ke daerah Batak bagian Selatan pada tahun 1837, tetapi karena penyakit yang menimpanya, usahanya tidak berhasil.

Dengan menggunakan referensi buku yang ditulis oleh Junghun, Lembaga Alkitab Belanda mengutus seorang ahli bahasa yang bernama Neubronner van der Tuuk pada tahun 1849 untuk meneliti dan mempelajari bahasa, tulisan dan adat-istiadat Batak. Selama 7 tahun di tanah Batak, dia menerjemahkan Alkitab (Kejadian, Keluaran, Injil Lukas dan Injil Yohannes) ke dalam bahasa Batak Toba, dan juga menulis kamus Batak – Belanda dan tata Bahasa Batak. Pada tahun 1853, N. van der Tuuk berkunjung kepada Raja Sisingamangaraja XI di Bakkara, dan ternyata Raja Sisingamanagaraja XI membiarkan N. van der Tuuk meneliti adat-istiadat dan kebudayaan Batak.

Pada tahun 1856, Pendeta G. van Asselt dari Ermelo, Belanda diutus untuk memberitakan Injil ke tanah Batak. Dia tiba tahun 1857 di Sipirok, yang menjadi batu loncatan bagi pekabaran Injil kepada suku-suku bangsa Batak. Dua tahun kemudian disusul oleh para pendeta lainnya dari Ermelo, yaitu: Koster Betz, Dammerboer dan van Dalen, untuk memberitakan Injil. Mereka segera memberitakan Injil kepada penduduk dan mengajar anak-anak. Setelah beberapa lama mengadakan pekabaran Injil, dua orang Batak yang pertama menjadi Kristen dan dibaptis/dipermandikan, ialah Jakobus Pohan Tampubolon dan Simon Siregar, yaitu pada hari Minggu tanggal 31 Maret 1861.

Pada tahun 1858, Dr. Fabri yaitu pemimpin Rheinische Missions Gesselschaft (RMG) Jerman, secara kebetulan melihat buku tulisan N. van der Tuuk di negeri Belanda, yang baru diterbitkan mengenai tulisan dan bahasa Batak di Sumatera. Ia melihat ini sebagai petunjuk dari Tuhan, bahwa suku-suku bangsa Batak telah siap sebagai ladang pekabaran Injil untuk dituai, sehingga dia mengalih-tugaskan pendeta-pendeta RMG yang istirahat di Jakarta ke Tanah Batak.

Pada tanggal 17 Agustus 1861, Pendeta Heine dari RMG tiba di Sibolga bersama Pendeta Klammer (berada di Jakarta, baru pulang dari Banjarmasin). Mereka segera menemui Pendeta G. van Asselt dan Pendeta Betz di Sipirok. Keempat pendeta ini mengadakan musyawarah di Sipirok pada tanggal 7 Oktober 1861 untuk merencanakan pekerjaan bersama dalam pekabaran Injil di Tanah Batak. Keputusan pada musyawarah itu adalah:
Pdt. Heine dan Pdt. G. van Asselt mengabarkan Injil ke Pahae
Pdt. Klammer tinggal menetap untuk pekabaran Injil di Sipirok
Pdt. Betz mengabarkan Injil di Bungabondar
Pdt. G. Van Asselt dan Pdt. Betz meninggalkan Gereja Belanda dan menjadi pendeta utusan RMG.

Mengingat pada tanggal 7 Oktober 1861 merupakan hari ketetapan dimulainya pekabaran Injil oleh RMG di Tanah Batak, maka ditetapkanlah bahwa pada tanggal 7 Oktober 1861 sebagai hari jadi Huria Kristen Batak Protestan.

7 Oktober 1861

Tokoh utama dalam sejarah pekabaran Injil di tengah suku bangsa Batak ialah

” Ludwig Ingwer Nommensen (1834 – 1918) “

Setelah pertobatannya, ia melamar ke RMG
(Rheinische Missions Gesselschaft) untuk menjadi seorang pekabar Injil. Ia dididik di wisma RMG di Barmen, dan pada tahun 1861 ia berangkat ke Sumatera. Sesudah menempuh perjalanan yang 142 hari lamanya, ia tiba di Padang dan dipekerjakan dalam wilayah kekuasaan Belanda. Ia tidak menyetujui strategi teman-temannya dan ketaatan mereka terhadap larangan pemerintah untuk masuk ke pedalaman. Ia berniat menyiarkan agama Kristen bukan dari pinggir, melainkan dari pusat Tapanuli. Dengan maksud itulah pada permulaan tahun 1864 ia pindah ke Silindung (Kabupaten Tapanuli Utara, yang ibukotanya Tarutung).

Tidaklah mudah untuk memasyarakatkan hidup baru berdasarkan Injil Yesus Kristus di lingkungan masyarakat tradisional Batak yang saat itu masih dicengkeram oleh kuasa kegelapan. Berbagai upaya dan rencana untuk menggagalkan, mengusir bahkan membunuh Nommensen dilakukan. Namun Tuhan melindungi hambaNya yang setia, tekun dan berdedikasi tinggi ini, yang menyatakan komitmennya kepada Tuhan dalam doa: “Hidup atau mati, saya akan tinggal di tengah-tengah bangsa ini untuk memberitakan Injil dan KerajaanMu! Amen.” Dari penyerahan hidupnya ke dalam pelayanan pekabaran Injil, kita melihat bahwa sejarah mencatatnya sebagai “Rasul Orang Batak”. Salah satu contoh peperangan rohani yang dialaminya adalah pada saat pesta nenek moyang di Siatas Barita, biasanya disembelih seekor kerbau bersama dengan seorang manusia. Maka Sibaso (pengantara orang-orang halus), sesudah kerasukan roh, menyuruh khalayak ramai membunuh Nommensen yang pada waktu itu hadir juga di situ. Lalu Nommensen tampil ke muka dan berkata kepada orang banyak itu: “Roh yang berbicara melalui orang itu sudah lama mem-perdayakan kalian. Ia bukan roh Siatas Barita, nenekmu, melainkan roh jahat. Masakan nenekmu menuntut darah salah seorang keturunannya!”. Segera Sibaso itu jatuh ke tanah, dan Nommensen tidak diganggu oleh siapa pun.

GARUDA

 

BATAKNESE ETNIC

Berkat dukungan dari kepala suku Batak, seperti Raja Pontas Lumban Tobing, Raja Musa Hutauruk, dan raja-raja lainnya yang telah bertobat dan mau secara aktif memanfaatkan peluang yang ada untuk membawa terang Yesus Kristus, dan keinginan yang membara untuk membebaskan masyarakat Batak dari kuasa-kuasa kejahatan yang mencekam pada waktu itu, maka dalam tempo 20 tahun daerah Silindung telah menjadi daerah Kristen. Kemudian secara bertahap, Injil pun diberitakan ke daerah sekitar Danau Toba dan daerah-daerah Batak lainnya. Oleh karenanya, pada waktu pemerintahan Belanda mulai menduduki daerah Silindung, tahun 1878, penduduk yang telah Kristen itu melihat kedatangan Belanda hanya sebagai penguasa duniawi dan bukan pembawa agama baru.
C. Berdirinya HKBP di Jakarta

Masuknya Injil di Tanah Batak membawa perubahan pada sikap, perilaku dan cakrawala orang Batak. Optimisme yang tumbuh sebagai buah kekristenan, mendorong pemuda-pemuda Batak tidak puas hanya mengecap pendidikan SD saja, mereka ingin lebih maju lagi, berniat melanjutkan sekolah/pelajaran ke sekolah yang lebih tinggi, sekolah menengah dan seterusnya, yang pada waktu itu belum tersedia di Sumatera, dan hanya tersedia di pulau Jawa.

Para pemuda Batak pun datang ke pulau Jawa selain untuk belajar juga mencari pekerjaan, menjadi pegawai negeri/karyawan swasta, tentara/polisi dan pengusaha. Sebagian besar dari pemuda itu melanjutkan sekolah pada HIK Kristen di Solo, pada Sekolah Menengah Atas yang pada saat itu disebut Algemene Middlebare School (AMS), yang kemudian dapat melanjutkan ke Rechts Hoge School (Sekolah Tinggi Hukum, sekarang menjadi Fakultas Hukum UI) Jakarta, atau ke Geneeskundige Hoge School (sekarang Fakultas Kedokteran UI) Jakarta, atau ke Technise Hoge School (sekarang ITB) Bandung. Pada saat itu STM hanya ada di Jakarta dan Surabaya. Pemuda pelajar Batak umumnya bergabung dalam study club-study club dan dengan penuh perhatian dan partisipasi aktif senantiasa mengikuti gerakan kemerdekaan. Kemudian pelajar-pelajar Batak di Jakarta, Bandung dan Surabaya mendirikan Jong Bataksbond, berpartisipasi penuh dalam Kongres Pemuda pada tanggal 27 – 28 Oktober 1928 di Jakarta.

Pada umumnya keluarga mau pun pemuda Batak bergabung dalam perkumpulan kekeluargaan Batak di Jakarta. Di samping kerinduan dalam hubungan kekeluargaan, mereka juga sering mengadakan pertemuan-pertemuan penelaahan Firman Tuhan dalam Alkitab. Masyarakat Batak Kristen di Jakarta mencetuskan kerinduan mereka akan kebaktian-kebaktian dalam bahasa ibu (Batak) yang umumnya dirasakan lebih meresap di kalbu. Setelah hal ini berulang kali dibicarakan dalam pertemuan-pertemuan, akhirnya diperoleh kesepakatan untuk mengadakan kebaktian dalam bahasa Batak, yang dikoordinir dan dilayani oleh orang-orang yang dituakan di antara mereka secara kelompok yang disebut majelis (parhalado), dan kemudian mereka memilih tempat kebaktian di daerah Petojo.

Setelah melalui persiapan yang cukup, maka pada tanggal 5 Oktober 1919 diadakanlah kebaktian Minggu yang pertama dalam bahasa Batak di Jakarta, bertempat di gedung HCS (Hollandsche Chinese School, yaitu Sekolah Dasar Cina yang berbahasa Belanda) di Petojo. Majelis yang mengorganisasikan dan melayani kebaktian ialah Guru (Gr) Simeon Hasibuan, Gr. Frederik Harahap, Gr. Elisa Harahap, Gr. Mateus Nababan, Gr. Farel Lumban Tobing, Sintua (St) Bonifacius Simatupang, St. Henok Silitonga dan St. Hermanus Tambunan. Pada tahun 1922, pucuk pimpinan HKBP menempatkan Pdt. Mulia Nainggolan sebagai Pendeta Resort yang pertama untuk memimpin jemaat-jemaat HKBP di Jakarta dan sekitarnya.

Para pemuda HKBP Jakarta mendirikan perkumpulan yang diberi nama “SAUDURAN”, yang kantor sekretariatnya berlokasi di Jalan Kernolong, Jakarta. Mereka bergabung dalam perkumpulan pemuda-pemudi Kristen Jakarta, yang pada saat itu bernama “Christelijke Jeugd Vereniging” yang berada di Jalan Kebon Sirih, Jakarta, sebagai klub. Di tempat ini diadakan ceramah kekristenan dan kegiatan olah raga, seperti: badminton, pimpong, catur dan sebagainya. Di tempat ini pulalah pemuda-pemudi Kristen saling berkenalan, yang kemudian setelah Indonesia merdeka, mereka bersama-sama mendirikan Partai Kristen Indonesia (Parkindo).

DR IL Nommensen
il nomensen
Justin Sihombing, Sejarah ni Huria Kristen Batak Protestan,
Medan: Philemon & Liberty, 1961), ibid.
Muller Kruger, opcit,
Dr. Th. Van den End, Harta Dalam Bejana, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1997),
Pdt. Dr. J.R. Hutauruk, Garis Besar Sejarah 125 Tahun HKBP,
Kantor Pusat HKBP, 1986) .
Tim sejarah HUTJUB 50 Hkbp KramatJati & Pembangunan.
Arsip HKBP KramatJati

Arsip support by info archive: https://hkbpkramatjati.blogspot.com

 

PRAYIN

 

INFO G HKBP KRJATI

 

HKBP PRAISE