Sejarah Gareja Hkbp Kramat Jati

GAREJA HKBP KRAMATDJATI

 

SEJARAH BERDIRI HKBP KRAMATJATI

Gereja HKBP Kramatjati,

Ibarat sebuah pohon, tunas kecil Gereja HKBP yang ada di Jakarta, secara bertahap dan berkesinambungan mengalami pertumbuhan menjadi batang yang besar, banyak dahan dan ranting yang keluar dari batang pohon itu. Jemaat mengalami pertumbuhan yang pesat setiap tahunnya, terutama sebagai  akibat dari pertambahan jumlah penduduk dari suku bangsa Batak yang bermukim di Jakarta, disamping juga sebagai akibat banyaknya etnis Batak yang datang ke Jakarta untuk tujuan dinas (kerja) dan juga untuk tujuan pendidikan. Apabila pada tahun 1922 gereja HKBP yang pertama berdiri di Jakarta, dengan jumlah jemaat masih puluhan keluarga, maka 50 tahun kemudian yaitu pada tahun 1972, di Jakarta dan sekitarnya sudah berdiri sebanyak 29 gereja HKBP dengan jumlah jemaat mencapai puluhan ribu jiwa.

Mulai dari masa Orde Lama dahulu, sejak tahun 1961 daerah Kramatjati dan sekitarnya telah ditetapkan sebagai tempat berdirinya komplek Militer, baik TNI AD, AU dan POLRI. Sebahagian besar keberadaan dari bangunan instansi militer dan polisi masih tetap ada hingga saat ini, meskipun sebagian lainnya telah dipindahkan. Sebagai contoh, kita melihat keberadaan Komplek Pusat Pendidikan Kesehatan (PUSDISKKES) Angkatan Darat di jalan Raya Bogor, berdekatan dengan gedung HKBP Kramatjati saat ini, RS POLRI dekat Pasar Kramatjati, demikian juga perumahan KODIM (Asrama 3 Mei) di Cililitan.

Sedangkan sebagian lainnya telah dipindahkan, seperti komplek Resimen Pasukan Gerak Cepat AURI (PGT) yang dulu berlokasi di Kramatjati Indah (sekarang menjadi LIPPO Plaza Kramatjati). Demikian juga komplek batalyon Perawatan Angkatan Udara (Yon Perbekud) dan komplek Intendance TNI-AD (CIAD) di lokasi Terminal lama Cililitan. Apabila kita masuk ke daerah Lubang Buaya (istilah dahulu), kita akan melihat Komplek Perumahan Markas Besar TNI-AU yang sangat luas. Kemudian keberadaan komplek RINDAM di Condet, komplek RPKAD (Kopasus) di Cijantung, Komplek AURI di Cimanggis, dan Komplek KOSTRAD di Cibinong. Tampaknya pada setiap perkampungan militer dibangun, maka selalu diikuti dengan menjamurnya perkampungan rakyat secara bersamaan.

  1. Awal Berdirinya HKBP Kramatjati

Pada awal tahun 1964, telah ada beberapa keluarga yang berasal dari etnis Batak bertempat tinggal di sekitar kecamatan Kramatjati, Jakarta Timur. Mereka pergi beribadah setiap minggu ke gereja HKBP terdekat, yang pada saat itu umumnya beribadah ke gereja HKBP Jatinegara dan HKBP Kernolong, Jakarta Pusat. Mengingat jarak  dari Kramatjati ke Jatinegara dan Jakarta Pusat yang relatif jauh, ditambah lagi dengan langkanya kendaraan umum pada saat itu, maka ada kerinduan dari beberapa keluarga ini untuk beribadah di tempat yang relatif lebih dekat. Akan tetapi mereka satu sama lain tidak saling mengenal karena belum pernah bertemu.

Allah itu sungguh baik, Dia tahu apa yang dirindukan umatNya dan pertolonganNya tidak pernah terlambat. Pada saat itu seorang anak dari bapak J.Hutabarat meninggal dunia, sehingga sesuai dengan Adat Istiadat Orang Batak, setiap ada salah satu dari keluarga yang mangalami Duka cita/ musibah maka seluruh Orang Batak yang berada disekitar lingkungannya pasti akan berkumpul untuk memberikan bantuan, baik moril maupun materiil serta memberikan penghiburan kepada keluarga yang mengalami duka cita/ musibah. Kemudian setelah seluruh rangkaian acara selesai mereka memanfaatkan waktu yang ada untuk saling bertegur sapa, bertukar informasi dan saling bekenalan antara satu dengan yang lainnya.

Sebagaimana tradisi orang Batak, mereka berkumpul dan memberikan penghiburan kepada keluarga yang berduka cita. Dalam kesempatan inilah mereka saling menyapa, “di mana anda tinggal”? dan “di mana gereja anda?”.  Sejak saat itulah dimulai adanya komunikasi yang terbuka dan saling berkenalan diantara orang-orang Batak yang berada di lingkungan Kramatjati. Sehingga perkumpulan orang-orang Batak yang ada disekitar Kramat Jati semakin rutin dan berkembang mulai dari mengadakan pertemuan-pertemuan rutin sampai dengan memunculkan gagasan untuk mendirikan sebuah Tempat untuk Beribadah.

Gagasan untuk membentuk sebuah tempat peribadatan (kebaktian pada hari minggu) di lingkungan Kramatjati, yang merupakan Filial dari gereja HKBP Jakarta Kernolong, muncul pada saat diadakan pertemuan pada tanggal 09 Oktober 1964 (hari Jumat) di rumah bapak Julianus Butarbutar/br Sitorus (AURI), beralamat di Jalan Raya Bogor No. 51 (sekarang menjadi bengkel Knalpot di depan gereja HKBP Kramatjati), Kramatjati, Jakarta Timur.  Pertemuan itu di pimpin oleh bapak B.M. Siregar dan dimulai pukul 19.00 WIB yang diawali dengan kebaktian singkat, kemudian dilanjutkan dengan rapat. Ada 7 (tujuh)  keluarga yang hadir dalam pertemuan tersebut, yaitu:

Kel. B.M. Siregar anggota TNI AD

Kel. M. Sagala anggota TNI AD

Kel. J.Butarbutar anggota TNI AU

Kel. N.DJ. Sirait anggota POLRI

Kel. M.P. Sitorus pegawai Sipil TNI AD

Kel. E.L. Tobing pegawai  Depkes

Kel. R.H. Siregar wartawan Sinar Harapan

Dari rapat tersebut diatas maka ditetapkan keputusan-keputusan, sebagai berikut:

  1. Tanggal 18 Oktober 1964 harus dimulai kebaktian dengan menunpang di Gedung SD Negeri III, Jln. POLRI Kramatjati
  2. Bapak B.M. Siregar dan Bapak M. Sagala ditunjuk untuk mengurus tempat tersebut (pada saat itu Bapak M.Sagala adalah ketua POMG di SDN III tersebut).
  3. Bapak E.L.Tobing sebagai Ketua Parrmingguan, beliau yang tertua dan dan rela menyiapkan tempat sebagai ruang Konsistori dari rumahnya yang kebetulan di depan SDN III tersebut.
  4. Bapak J.Butarbutar sebagai Ketua Pembangunan.

Rapat tersebut ditutup dengan ucapan terimakasih kepada tuan rumah yang berkenan menyiapkan segala sesuatunya untuk keperluan rapat, diiringi doa semoga Tuhan melimpahkan berkatNya kepada tuan rumah dan juga semua warga  HKBP yang berdomisili di Kramatjati, serta suksesnya penyelenggaraan kebaktian perdana yang akan dilaksanakan.

Sebelum kebaktian perdana diadakan, terlebih dahulu diadakan persiapan pada hari Sabtu tanggal 17 Oktober 1964. Diputuskan bahwa yang membawa kotbah dan liturgi adalah Bapak B.M.Siregar (meskipun belum menjadi Sintua namun telah aktif melayani di HKBP Serang ), yang membacakan warta jemaat Bapak R.H. Siregar, dan Sdr. Johan Sitorus diajak untuk memimpin lagu puji-pujian.

Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Kasih, Ibadah Minggu yang pertama diselenggarakan pada tanggal 18 Oktober 1964 di SDN III Jalan Polri, Kramatjati dengan jemaat mula-mula sebanyak 17 keluarga. Oleh karenanya maka tanggal 18 Oktober 1964 dinyatakan sebagai hari jadi HKBP Kramatjati.

Keluarga yang hadir pada kebaktian perdana tanggal 18 0ktober 1964 adalah:

  1. Kel. B.M. Siregar / br Simanjuntak
  2. Kel. M. Sagala/  br Manalu
  3. Kel. J. Sirait /br. Butarbutar
  4. Kel. R.H. Siregar/br Siahaan
  5. Kel. E.L. Tobing/br Simanjuntak
  6. Kel. M.P. Sitorus/br Siregar
  7. Kel. Johan Sitorus/br Sirait
  8. Kel. J. Butarbutar/br Sitorus
  9. Kel. A. Marpaung/br Tambunan
  10. Kel. J. Simanjuntak/br Siahaan
  11. Kel. M.Siahaan/br Silitonga
  12. Kel. M.Samosir/br Sitompul
  13. Kel. M. Togatorop/br Sianturi
  14. Kel. O.S.K. Siregar/br Hutasoit
  15. Kel. Tambunan/br Doloksaribu
  16. Kel. M. Siahaan/br Marpaung (Ompu.Batu)
  17. Kel. A.B.Siahaan/br Silalahi

Disamping itu juga hadir beberapa Naposobulung antara lain:

  1. Huta Sitorus
  2. Victor Siregar
  3. Mathelda Br. Sitorus
  4. Timbo Pasaribu
  5. Berlin Sibuea
  6. Daulat Siahaan
  7. Tigor Siahaan
  8. Patar Siahaan
  9. Elwin Siregar
  10. Sorta Br. Rajagukguk
  11. Sirait ( Anggota AURI )
  12. Tianur Br. Silaban
  13. S.T.R. Siregar
  14. Tionur Br. Tambunan
  15. Manosor Napitupulu
  16. Lucius Butar-butar
  17. Amin Br. Simanjuntak
  18. Br. Gultom ( Bs. Taman Harapan )

 

Benar sebagaimana pepatah yang mengatakan, bahwa “Tiada Mawar Tanpa Duri”  atau tiada hasil tanpa pengorbanan. Kebahagian yang sejati yang akan kita capai, selalu diperhadapkan dengan tantangan dan perjuangan yang memerlukan kegigihan. Bahkan seringkali terasa lebih mengesankan, tatkala sesuatu itu  kita peroleh dengan susah payah.

Demikian halnya yang dialami oleh para penggagas dan jemaat HKBP Kramatjati pada saat mewujudkan kebaktian (prmingguon) HKBP Kramatjati. Dengan pertolongan Allah Yang Maha Kuasa, kebaktian perdana dapat diselenggarakan dengan baik sesuai dengan rencana. Jemaat berangkat dari rumah Bapak E.L.Tobing memasuki SDN III Kramatjati, dengan penuh haru dan ceria mengikuti kebaktian yang telah mereka dambakan. Dengan penuh harapan bahwa Tuhan akan selalu menyertai mereka dalam pencapaian cita-cita yang mulia, bahwa kelak dapat berbakti di tempat ibadah (Gereja) yang besar, aman dan nyaman seperti gereja-gereja yang di Bona pasogit.

  1. Peristiwa G 30 S PKI

Meskipun berawal dari kesederhanaan, sejarah mencatat bahwa Tuhan senantiasa menyertai umatNya. Dengan susunan parhalado awal yang unik, yang kebanyakan anggota ABRI, juga merupakan ciri khas tersendiri untuk keberadaan HKBP Kramatjati. Akan tetapi satu hal yang positif yang menopang gereja yang sehat, yang sekaligus juga menunjang pertumbuhan HKBP Kramatjati adalah bahwa Majelisnya (Parhalado) sehati sepikir dan penuh dedikasi. Jumlah jemaat bertambah dengan pesat, dalam satu tahun pertama saja telah meningkat lebih dari 100 persen.

Keberadaaan HKBP Kramatjati yang unik ini, tidak lepas dari perhatian beberapa tokoh orang Batak, antara lain ialah: (1). Bpk. Dr.A.M.Tambunan, SH (alm), mantan anggota DPR dan Menteri Sosial R.I, (2). Bpk. J.Pulungan, SH (alm), mantan wakil Ketua BPK dan Ketua Parkindo DKI, (3). Bpk. Brig.Jen. D.I. Panjaitan (alm), mantan Kepala Logistik AD dan Atase Militer di Kedutaan Besar Jerman Barat serta Bpk. Let Jend. TB. Simatupang. Mereka sangat terharu, dan sangat mendukung pembangunan HKBP Kramatjati.

Namun setahun setelah berdirinya peribadatan HKBP Kramatjati, meletuslah peristiwa “gerakan 30 September PKI”, yang populer disebut G 30 S, pada tanggal 30 September 1965. PKI ingin menguasai bangsa dan Negara R.I. Gerakan tersebut sangat menggoncangkan hampir seluruh kawasan nusantara pada waktu itu. Sebagai akibat dari peristiwa itu, 5 Jenderal dan 2 Perwira Menengah menjadi korban. Yang menjadi “7 Pahlawan Revolusi” dan diabadikan di Tugu Kesaktian Pancasila, Lobang Buaya, yang lokasinya dekat dengan HKBP Kramatjati.

Peristiwa G 30 S/PKI ini juga sempat membuat goyah iman Parhalado HKBP Kramatjati. Betapa tidak, karena basis kebiadaban yaitu pembantaian terhadap 7 Pahlawan Revolusi itu justru dekat dengan HKBP Kramatjati, yaitu hanya sekitar 2-3 kilometer saja dari Lubang Buaya.         Pada mulanya para Majelis, dan terutama jemaat, tampak gentar, dengan mengajukan pertanyaan, “Bagaimana ini?”. Tetapi Tuhan kita adalah hidup, dan senantiasa memelihara dan melindungi umatNya. Kenyataannya, baik Majelis maupun jemaat HKBP Kramat jati tidak ada satupun yang hilang atau korban atas peristiwa tersebut.

Ada satu hal yang menjadi kenangan yang tak terlupakan, dorongan dari tokoh kita yaitu Bapak Brig.D.I.Panjaitan (alm), yang mengatakan bahwa di tempat yang menjadi Terminal Cililitan, yang pada waktu itu masih tanah kosong, akan dibangun Gereja yang Indah. Meskipun visi yang disampaikan oleh bapak D.I.Panjaitan (alm) tidak sempat diwujudkannya, karena beliau telah mendahului kita ke pangkuan Bapa di sorga sebelum terwujudnya visi itu, akan tetapi Tuhan turut bekerja untuk mewujudkan rencana mulia itu, melalui kerja keras dari para Majelis dan Jemaat HKBP Krmatjati yang dipercayakan oleh Tuhan untuk mengemban misi sebagai perwujudan dari visi yang gemilang itu. Sejarah mencatat secara perlahan, tetapi pasti, HKBP Kramatjati bertumbuh, dan pada akhirnya mampu memiliki Gereja yang Indah itu, untuk kebesaran nama Tuhan Yesus Kristus, yang adalah Kepala dari Gereja itu sendiri!

  1. Menuju Kemapanan

Sejak awal berdirinya peribadatan HKBP Kramatjati, semua program dapat berjalan lancar. Hal ini tentu saja karena petunjuk dan pertolongan Tuhan serta kesatuan anggota Majelis, terutama semangat pantang menyerah Guru Huria B.M.Siregar. Ditambah  lagi dengan dorongan semangat baja Pdt.B. Nainggolan (alm), yang pada saat itu melayani di HKBP Menteng Halimun/Pol Tangan Pasar Minggu/Kebayoran Baru, tetapi beliau sempat bertempat tinggal dekat dengan HKBP Kramatjati, oleh karena itu aktif juga melayani di HKBP Kramatjati. Ada satu semboyan beliau yang sangat berkesan, yaitu: “Andaikan hanya satu orang pun yang datang ke tempat peribadatan, kebaktian harus tetap berjalan”.

Pendataan keluarga (jemaat HKBP Kramatjati) yang masih dapat disebutkan berdasarkan rekaman  ingatan dari sumber-sumber yang dapat dipercaya, satu tahun pertama (1964-1965) adalah sebagai berikut [1]

B.M. Siregar / br Simanjuntak

M.Sagala / br Manalu

N.Dj. Sirait / br Butarbutar

R.H.Siregar / br Siahaan

E.L. Tobing / br Simanjuntak

M.P.Sitorus / br Siregar

Johan Sitorus / br Sirait

J.Butarbutar / br. Sitorus

Marpaung / br Tambunan

Silitonga / br Siahaan

J.Simanjuntak  br Siahaan

Pdt. B. Nainggolan / br Siregar Dongoran

B.Situmeang  br Nainggolan

M.Siahaan / br Silitonga

M.Samosir / br Sitompul

S.M.Siregar / br Siahaan

A.R. Siregar / br Togatorop

M.Siahaan / br Sirait

S.T.R. Siregar / br Silaban

Silaban / br Hutasoit

Togatorop/ br Sianturi

Cirus Sitorus / br Napitupulu

Sirait / br Doloksaribu

W.Pasaribu / br Toraja

Kasianus Siahaan / br …..

P.Manurung / br Sirait

M.Silaban / br Simamora

Maruap Silaban / br Simamora

John Gultom / br Simanjuntak

K.Silaban  br Sihombing

Siahaan / br Marpaung (Op.Batu)

Sirait / br Situmorang

O.S.K. Siregar / br Hutasoit

Tambunan / nbr Doloksaribu

A.B.Siahaan / br Silalahi

Untuk meningkatkan kualitas dan menuju kemapanan pelayanan, maka para Majelis dan beberapa Jemaat yang merasa terpanggil dalam pelayanan gereja, mulai mengikuti proses belajar-mengajar untuk mendalami Firman Tuhan dan manajemen gereja, sebagai Calon Sintua (CSt).

Calon Sintua (CSt) yang pertama (periode 1964-1968) adalah sebagai berikut:

CSt. Bistok M. Siregar

CSt. M.Sagala

CSt. N.DJ. Sirait

CSt. A.Marpaung

CSt. MP.Sitorus

CSt. E.L.Tobing

CSt. T.A. Silaban

Sekitar tahun 1966, kurang lebih setahun setelah terjadinya peristiwa G 30 S/PKI, HKBP Kramatjati memperoleh bantuan (hibah) berupa pakaian bekas dan bulgur dari Gereja di  Jerman. Setelah disepakati oleh Parhalado dan Jemaat, maka barang yang diperoleh melalui hibah Jerman tersebut dijual langsung kepada jemaat. Uang yang dapat dikumpulkan sebagai hasil penjualan barang tersebut digunakan untuk membeli 40 buah bangku (bahan kayu jati). Inilah inventaris awal HKBP Kramatjati. Pada saat perpindahan gereja ke Jl.Raya Bogor no.45 (depan PUSDIKKES), inventaris ini turut dibawa. Baru kemudian pada tahun 1991, setelah gereja pindah je Jl. Raya Bogor no. 8 A (belakang Toko 28), inventaris bangku ini kembali dihibahkan ke HKBP Kranggan dan HKBP Getsemane.

  1. Kebaktian di Jalan Raya Bogor (depan PUSDIKKES)

Ternyata jumlah jemaat yang beribadat setiap hari Minggu di SDN III Jalan POLRI, Kramatjati, bertambah dengan pesat setiap tahunnya, terutama sebagai akibat dari perpindahan penduduk dari Jakarta Pusat ke Jakarta Timur, serta semakin banyaknya etnis Batak berpindah ke Jakarta untuk mencari nafkah dalam segala bidang usaha. Tercatat bahwa jumlah pada akhir tahun 1967 telah mencapai 70 keluarga, sehingga tidak dapat lagi ditampung beribadat di SD Negeri III Kramatjati.

Menghadapi kendala ini, maka diadakan upaya rehabilitasi pada sekolah tersebut dengan menyatukan beberapa ruangan. Akan tetapi pada akhir Februari 1968, Parhalado menganggap bahwa tidak mungkin lagi mempertahankan dan meneruskan penggunaan SDN III Kramatjati, karena keterbatasan ruangan yang tersedia, sedangkan jemaat semakin lama semakin bertambah banyak. Pada saat itulah diambil keputusan untuk mencari lokasi peribadatan yang baru dan segera pindah, yaitu ke Jalan Raya Bogor no.45 (depan PUSDIKKES) yang kapasitasnya lebih besar, agar mampu menampung lonjakan jemaat yang terus bertambah

Lokasi kebaktian di depan PUSDIKKES, memiliki kisah tersendiri. Pada bulan Februari 1968, Parhalado bersama dengan jemaat berusaha mencari lokasi kebaktian yang dapat menampung lonjakan jumlah jemaat yang semakin bertumbuh , dan menemukan lokasi tersebut yang luasnya kurang lebih 500 meter persegi, dan saat itu dipergunakan sebagai pabrik terasi, yang dibeli dengan harga Rp. 300.000,- (tiga ratus ribu rupiah).  Sedangkan kas gereja pada saat itu hanya berkisar Rp. 30.000,- (tiga puluh ribu rupiah). Guna menutupi kekurangan dana sebesar Rp. 270.000, pihak Parhalado bersama dengan Jemaat mengadakan pesta dalam rangka pengumpulan  dana, namun hasilnya masih belum cukup. Akhirnya untuk pelunasannya, dipinjam sejumlah dana tambahan dari anggota Jemaat, yaitu dari Bapak M.Siahaan dan Bapak B.M.Siregar (yang kemudian keduanya menjadi sintua HKBP Kramatjati). Kita melihat dari pengalaman ini bahwa tantangan yang dihadapi untuk memperoleh gereja yang layak, sungguh besar. Jika hanya berdasarkan pemikiran semata, terkesan bahwa keputusan yang diambil seperti “nafsu besar tenaga kurang”. Namun dari pengalaman ini kita melihat buah dari iman. Dengan iman kepada Tuhan, bahwa pertolonganNya akan dinyatakan, dan melalui semangat yang berkobar dan pantang menyerah, maka kuasaNya lebih tampak nyata, bahkan di saat tantangan yang besar. Itulah yang dialami oleh majelis dan jemaat HKBP Kramatjati dalam perwujudan kerinduan untuk memperoleh gedung Gereja HKBP Kramatjati di depan PUSDIKKES. Terbukti bahwa Tuhan tidak mempermalukan umatNya untuk mencapai cita-cita yang besar, bagi kemuliaan namaNya.

Pada tanggal 24 Maret 1968, dimulailah perombakan kamar-kamar bekas pabrik terasi yang dilakukan secara gotong royong, dengan maksud agar segera dapat dimanfaatkan  untuk kebakaktian minggu. Suatu hal yang menarik, bahwa diawal penggunaan bekas pabrik terasi ini sebagai suatu tempat kebaktian, para jemaat dan parhalado harus selalu siap dengan sapu tangan untuk menutupi hidung, agar dapat  mengurangi tajamnya bau terasi yang memenuhi tempat tersebut. Setiap minggunya selalu saja ada perobahan, misalnya: perombakan dinding-dinding kamar, pengubahan letak pintu masuk, letak podium dan sebagainya. Bahkan masih ada sebagian tempat yang belum sempat dipasang atap. Namun kendala itu tidak menjadi hambatan bagi Jemaat dan Parhalado untuk mengadakan kebaktian. Justru hal tersebut merupakan salah satu faktor pendorong (penambah semangat) untuk segera membangun tempat ibadat yang layak.

Dalam hal ini, kita selayaknya berterimakasih kepada tokoh-tokoh yang sangat besar andilnya dalam pembangunan Gereja HKBP Kramatjati pada waktu itu, yaitu:

  1. Pdt. B. Nainggolan (almarhum, yang saat itu melayani di HKBP Kebayoran Baru-Menteng Halimun-Poltangan Pasar Minggu), karena beliau selalu memberikan dorongan secara spiritual kepada jemaat, yang kebetulan bertempat  tinggal dekat dengan lokasi Gereja. Beliau aktif melayani pada saat kebaktian rumah tangga/ Wijk  dan kebaktian Minggu Sore.
  2. Bapak Cst. Bistok M. Siregar (Pejabat Guru Huria pada waktu itu), yang senantiasa bersemangat dan pantang menyerah. Setiap hari dan terutama pada hari Minggu pagi, beliau datang menyapu sendiri, merapikan dan mempersiapkan segala sesuatu untuk keperluan kebaktian
  3. Bapak Cst. A. Marpaung, sebagai Pelaksana pembangunan
  4. Bapak Cst. M. Sagala, sebagai Ketua Parartaon
  5. Bapak A. Sirait (alm), yang banyak memberikan sumbangan dalam tahap penyelesaian pembangunan pertama
  6. Bapak M.Siahaan, anggota jemaat yang banyak memberikan sumbangan dana dan saran
  7. St. H. Pasaribu ( Pindahan dari Surabaya ), yang bertempat tinggal disamping gereja, sebagai Sintua yang aktif dalam pelayanan dan pemeliharaan (kebersihan) gereja bahkan menyumbangkan tanahnya seluas 3M2 untuk keperluan gereja.
  8. Semua Parhalado dan Jemaat yang turut memberikan sumbangan dana, pikiran dan tenaga.

Secara khusus kita juga sangat menghargai partisipasi kaum muda dalam pembersihan Gedung Gereja yang adalah bekas pabrik terasi. Kurang lebih seminggu sebelum peresmian HKBP Kramat jati sebagai gereja penuh, Guru Huria B.M. Siregar menggerakkan kaum muda (Naposo Bulung HKBP Kramatjati) yang pada saat itu sebagai Ketua/Guru Koor NHKBP adalah Sdr.Berlin Sibuea, untuk bekerja bakti melakukan pembongkaran dinding dan pembersihan lokasi gereja dari bau terasi dengan menggunakan kurang lebih satu drum karbol. Dengan sukacita Majelis dan Jemaat memberikan dukungan moril dan material, dan juga komsumsi kepada NHKBP yang mau bekerja siang dan malam tanpa mengenal lelah, mengejar target untuk dapat digunakan sebagai tempat ibadah yang layak pada tanggal 30 Juni  1968.

Disamping itu Berlian Sibuea juga merupakan Sekretaris II HKBP Kramatjati yang aktif membantu R.H. Siregar, SH, sehingga seringkali St. B.M. Siregar mengajak Berlin Sibuea mewakili sekretaris di Sermon Parhalado HKBP Kernolong.

Kemudian tanggal 30 juni 1968, keberadaan HKBP Kramatjati diresmikan sebagai Gereja (Penuh), oleh Ephorus HKBP, yaitu Dr. T. Sihombing, yang kebetulan berada di Jakarta dalam rangka menghadiri Rapat MPRS.  Rombongan Ephorus  bersama dengan parhalado/jemaat, berjalan kaki dari rumah Guru Huria (di asrama PUSDIKKES) sampai ke Gereja. Pada saat itu, juga beberapa kru dari TVRI tidak ketinggalan, ikut ambil bagian untuk mengabadikan peristiwa peresmian tersebut yang disiarkan ke seluruh tanah air pada malam harinya. Dalam acara peresmian tersebut , Ephorus membawakan khotbah dari Kejadian 28:16b, dengan uraian sebagi berikut:

Seorangpun tidak tahu bahwa tempat itu adalah tempat Allah

Tempat gereja HKBP Kramatjati, tadinya tempat pabrik terasi. Terasi itu bau, tetapi enak dimakan. Sekarang Allah memakai tempat itu, biarlah yang bau jangan lagi keluar dari anak-anak Allah yang menempati tempat itu

Sewaktu digunakan sebagai pabrik terasi, setiap orang yang lewat harus menutup hidung karena tidak senang. tetapi sekarang, setelah menjadi tempat peribadatan harus menjadi tempat yang dirindukan setiap orang yang lewat. Biarlah tempat peribadatan ini menjadi tempat penyebaran berita suka cita dalam Kristus Yesus.

Tiga bulan kemudian setelah HKBP Kramatjati diresmikan sebagai gereja, beberapa Majelis yang disebutkan diatas, pada tanggal 22 September 1968 ditahbiskan (ditabalkan) oleh Pdt. Alfred Silitonga (dari Resort Kernolong) menjadi Sintua (St), yaitu:

St. Bistok M. Siregar

St. M. Sagala

St. J. Sirait

St. T.A. Silaban

St. R. Silitonga

St. A. Marpaung

Pada saat pentahbisan ini (1968), jumlah Sintua yang aktif melayani menjadi 7 orang, karena sejak tahun 1967, ada seorang Sintua yang pindah dari HKBP Surabaya ke HKBP Kramatjati, yaitu St.Hakim Pasaribu

Dalam periode 1964-1974 ini, Pendeta yang bertugas di Resort Jakarta Kernolong adalah:

Pdt. Alfred Silitonga

Pdt. P.W.T. SimanjuntakPdt.

Simanungkalit (diperbantukan)

Pdt. T.P. Hutagalung (diperbantukan)

Tinggalkan Balasan