Koinonia, Marturia, Diakonia

Tri Tugas panggilan dan mendukung hakekat-sejati Gereja yang kudus itu.

KOINONIA (Bersekutu)

Gereja sebagai Koinonia adalah tubuh Kristus. Di dalam tubuh Kristus, semua orang menjadi satu, dan satu di dalam semua oleh Kristus (1 Kor.12:26). Persekutuan koinonia itu dialaskan atas dasar Firman Allah, Baptisan dan Perjamuan Kudus. Dengan dasar itu pulalah anggota gereja saling memperdulikan dan dikumpulkan bersama dalam Perjamuan Kudus sebagai komunitas yang kudus secara nyata. Persekutuan koinonia itu bukan hanya merupakan perkumpulan begitu saja, melainkan persekutuan yang bersifat soteriologis (keselamatan). Oleh Roh Kudus, gereja bergerak dinamis menuju akhir, yaitu penggenapan Hari Tuhan (parusia).

Di dalam persekutuan Koinonia ibadah (workship) berperan merefleksikan kekudusan persekutuan. Ibadah menjadi pusat penyampaian syukur dan terima kasih kepada Tuhan Allah atas seluruh bekat yang melimpah dalam seluruh sisi kehidupan komunitas gereja, misalnya perkawinan, pekerjaan, kesehatan, peningkatan ekonomi, keberhasilan, keselamatan dari mara bahaya, dsb. Semua berkat ini tentunya meneguhkan iman yang patut kita syukuri. Oleh sebab itu, ibadah juga harus merefleksikan komitmen hidup melayani Tuhan dengan perkataan dan tindakan setiap hari.

Mutu persekutuan haruslah senantiasa dipelihara dan ditingkatkan seiring tantangan dan kecenderungan jaman (nurturing). Iman itu bukanlah sekali dan untuk seterusnya, nmun merupakan proses dalam kehidupan seluruh warga gereja sesuai kebutuhan kategori usia masing-masing; anak-anak, remaja/pemuda, dewasa dan lansia (Ef.4). Bentuk-bentuk diskusi, Penelaahan Alkitab (PA), retreat dan lain-lain, haruslah dikembangkan secara kreatif. Semua kegiatan harus bertujuan membantu warga memahami Alkitab demi pertumbuhan iman yang sehat sehingga mampu menyingkapi tantangan jaman ditengah realita kehidupan; politik, ekonomi, kekerasan, hak azasi, gender, ekologi, globalisasi dan sebagainya.

Dengan pemahaman Firman Tuhan dan penghayatan iman yang benar setiap warga sadar akan dirinya sebagai bagian integral gereja yang memiliki panggilan untuk mendukung misi gereja melalui talenta dan charisma yang dimilikinya (imamat am orang-orang percaya). Perlu kita sadari tanpa mendalami pendidikan Kristen tersebut, persekutuan gereja sebagai tubuh Kristus (koinonia) akan beralih menjadi komunitas politis (political community).

MARTURIA (Bersaksi)

Ibadah koinonia yang berpusat atas dasar Baptisan, Firman Tuhan dan Perjamuan Kudus bukan bertujuan hanya untuk persekutuan itu secara eksklusif tetapi harus melahirkan komitmen untuk memberitakan dan menyaksikan berita keselamatan kepada semua mahluk. Pemberitaan dan kesaksian itu harus dilakukan oleh orang percaya baik secara individu maupun sebagai persekutuan.

Kita dipanggil oleh Tuhan Yesus secara individu maupun persekutuan untuk melaksanakan misi Tuhandi bumi ini. Yesus Kristus mati di kayu salib  – kita percaya Tuhan Allah dating ke dunia ini di dalam AnakNya Yesus Kristus yang telah mati untuk menyelamatkan kita dan dunia ini. Oleh sebab itu tugas pemberitaan (marturia) itu harus dilakukan oleh persekutuan gereja baik individu maupun persekutuan masing-masing. Setiap orang sadar akan kemuridannya (discipleship) dalam perjalanan hidupnya. Sekali kita menyadari hal itu maka kita harus memiliki komitmen dan kesetiaan sebagai murid Yesus Kristus. Dengan kesadaran sedemikian persekutuan menjadi alat yang kuat untuk mengkominikasikan berita keselamatan Kristus.

DIAKONIA (Melayani)

Pemberitaan dan kesaksian itu tidaklah selalu dilaksanakan dengan kata-kata tetapi juga dengan perbuatan atau pelayanan diakonia. Perlu kita ingat, ada kalanya suara perbuatan lebih nyaring gaungnya dari pada perkataan. Dengan tindakan maka Injil juga dapat diberitakan dan di dengar oleh orang-orang tuli.

Barangkali di suatu konteks tertentu gereja sulit melakukan pemberitaan firman Tuhan (khotbah) karena peraturan-peraturan Negara terkait, dengan tujuan membungkam gereja akan berita keselamatan itu. Akan tetapi dengan pelayanan diakonia gereja tidak dapat dibungkam sebab persekutuan koinonia memiliki seluruh berkat dalam kehidupannya yang dapat dibagi kepada orang lain dalam nam Yesus Kristus.

Perkataan, kehidupan dan tindakan diakonia yang kita berikan kepada orang lain atas nama Tuhan Yesus Kristus adalah juga marturia. Maka dari itu, diakonia adalah bagian integral dari misi Gereja. Marturia dan diakonia adalah dua sisi dari mata uang yang sama dan merupakan misi gereja yang mendasar.

Pelayanan diakonia sering dipahami hanya sebatas konsep caritas, membantu para janda, yatim piatu, fakit miskin demi kesejahteraannya. Sebenarnya, gereja dalam pelayan diakonia harus mencakup : pelayanan diakonia mencakup upaya pemahaman akar penyebab keprihatinan social sekaligus mengembangkan prakarsa pemberdayaan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup yang layak.

Hanya dengan pemahaman pelayanan diakonia sedemikian gereja dapat berfungsi sebagai agen transformasi ditengah masyarakat sebagai pewujudan karya keselamatan Yesus Kristus. Gereja menjadi garam dan terang dunia. Amin.

Pdt Midian KH Sirait, M.Th  https://midiankhsirait.wordpress.com/2012/01/18/koinonia-marturia-diakonia/

Dalam Gereja ada yang membidangi layanan tri tugas yang disebut Dewan Koinonia, Dewan Marturia, Dewan Diakonia

Hasil gambar untuk logo hkbp tahun 2019

Logo Tahun Orientaasi Pelayanan HKBP – Tahun 2019

 

I. GAMBAR TANGAN

  • Ada dua gambar tangan dalam logo ini, yaitu yang berwarna putih dan yang berwarna merah dengan motif gorga Batak.
  • Tangan berwarna putih digambarkan datang dari atas yang melambangkan pertolongan TUHAN bagi umat-Nya yang dinyatakan dalam lawatan Yesus Kristus. “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab la telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang” (Lukas 4:13-19).
  • Tangan dalam perpaduan warna merah, putih, hitam (warna dasar dalam budaya Batak) dengan ornamen gorga Batak digambarkan datang dari bawah, melambangkan orang percaya yang telah menerima belas kasih melalui rahmat Tuhan dalam hidupnya. Secara khusus Gereja HKBP yang berasal dari Tanah Batak telah menerima belas kasih TUHAN dan terpanggil memberitakan rahmat Tuhan bagi seluruh umat.
  • Ornamen gorga Batak yang digambarkan dalam tangan, turut mengingatkan sejarah penginjilan di Tanah Batak yang tidak terlepas dari budaya dan kehidupan sosial Batak. Tangan yang datang dari bawah menghadap ke atas juga melambangankan gereja yang terus bertumbuh, saat ini HKBP telah tersebar di luar Tanah Batak untuk memberitakan kabar baik bagi semua orang. HKBP sebagai gereja yang tumbuh lokal kini telah berbuah universal.
  • Gambar dua tangan yang datang dari atas dan dari bawah, turut mengingatkan setiap orang percaya secara khusus Gereja HKBP untuk menjadi berkat dalam pelayanan Diakonia Sosial bagi semua orang yang didasari kasih Kristus. “Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Matius 25:40).

II. PADI BERWARNA KUNING EMAS

  • Gambar padi dengan tujuh bulir penuh berisi, menunjukkan pelayanan gereja yang membawa berkat bagi umat dan lingkungan di mana gereja itu berada. Gereja HKBP membawa terang Kristus dalam pelayanannya. Tujuh bulir padi berwarna kuning emas, melambangkan berkat setiap hari, tujuh hari dalam serninggu dan berlanjut pada hari-hari selanjutnya, menyatakan kasih karunia Tuhan yang selalu menyertai umat-Nya sepanjang masa.

III. WARNA UNGU DALAM LINGKARAN

  • Gambar tangan dan padi diletakkan pada dasar warna Ungu, melambangkan warna kemuliaan TUHAN. Seluruh pelayanan belas kasih (ulaon parasinirohaon) yang dilakukan Gereja HKBP dilandaskan pada tujuan yang mulia, memberitakan kabar baik dan rahmat TUHAN. Pelayanan yang dilakukan berasal dari ketulusan hati untuk kemuliaan nama TUHAN.

IV. LINGKARAN BERWARNA BIRU

  • Lingkaran bewarna biru melambangkan pelayanan Gereja HKBP yang berkesinambungan tiada terputus dalam memberitakan kabar baik di seluruh dunia. Mencakup pelayanan yang universal, berlaku untuk semua orang, untuk seluruh dunia.

V. TULISAN dan PITA

  • Tulisan Lukas 4:16-21 yang mendasari Tema Orientasi Pelayanan HKBP 2019 “Patupa Ulaon Parasinirohaon tu Angka na Pogos.”
  • Tulisan Matius 25:40 yang mendasari Subtema Orientasi Pelayanan HKBP 2019 “Nasa na Binahenmuna tu Angka na Metmet on, na tu Ahu do i.”
  • Tulisan ULAON PARASINIROHAON, berwarna merah menunjukkan komitmen dalam menyatakan tujuan dari Orientasi Pelayanan HKBP 2019.
  • Tulisan ORIENTASI PELAYANAN HKBP 2019 dalam pita berwarna biru sebagai tanda pelaksanaan Orientasi Pelayanan HKBP di Tahun 2019.

Desain dan keterangan Logo – Pdt. Puji Handoko Aritonang. M.Th.


Acara Ibadah 1 September 2019 HKBP Kramat Jati