Merespon Mewaspadai Bersama Makna “Kebebasan”

Di balik kenyataan, kebijakan politik sektarian masih sering muncul di negara ini, adalah merupakan berkat tersendiri bahwa menginjak 71 tahun merdeka ini Indonesia menunjukkan semangat persatuan dan kebhinnekaan menurut pandangan Ketua Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Pdt Dr Albertus Patty.

“Bila membandingkan dengan negara lain yang mengalami perpecahan dan menjadi negara yang berbeda, seharusnya menjadi faktor pendorong untuk merawat keanekaragaman di Indonesia. Salah satunya yakni keragaman yang majemuk di Indonesia,” kata Pdt Berty, panggilan akrabnya, sambil memberi contoh Uni Soviet yang mengalami keruntuhan saat memasuki usia ke-70, juga Yugoslavia, dan kini Sudan yang terpecah belah menjadi Sudan dan Sudan Selatan.

bersam cipta keharmonisan di keragaman

“Kita bersyukur kehidupan keagamaan dan relasi antarumat beragama di Indonesia relatif lebih baik dibanding negara-negara lain seperti di Malaysia, Filipina, Thailand, Burma, Turki, atau di negara-negara Arab lainnya. Meskipun demikian, bukan berarti keadaan sudah cukup aman. Masih banyak peristiwa di mana terjadi anarkisme atas nama agama yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu,” kata penulis buku Melintas Batas, yang menyingkap pengalamannya saat menggumuli pluralisme itu, melalui surat elektronik, Minggu (7/8).

Perkembangan Kebebasan Beragama di Indonesia

Pdt. Berty mengemukakan, kebebasan beragama sebetulnya di Indonesia sudah ada sejak lama, dan  penanganan masalah ini tentunya berbeda karena Indonesia melewati kurun waktu sejarah yang berbeda.

Sejak era pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asyari hingga Partai Katolik Indonesia, dengan tokohnya, Ignatius Joseph (IJ) Kasimo, kala itu berhadapan dengan situasi awal kemerdekaan. Saat itu  bangsa Indonesia, menurut pengamatan Pdt Berty,  berhasil meletakkan dasar konstitusional yang bisa mengakui realitas sekaligus merangkul keanekaragaman bangsa. Sementara itu, tokoh militer dan gereja Indonesia, Tahi Bonar (TB) Simatupang, selain ikut berjuang dalam masa kemerdekaan, juga memberikan landasan kokoh pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila pada era pemerintahan Orde Baru yang sangat dominan.

Masalah yang dominan dalam penanganan kebebasan beragama dewasa ini, menurut dia, yakni masyarakat Indonesia diperhadapkan dalam situasi di mana era globalisasi terdapat pengelompokan identitas dalam pergaulan yang berdasar kepada kepercayaan tertentu.

Dia menilai situasi politik internasional, terutama Timur Tengah, turut andil dalam hubungan antaragama di Indonesia, karena di kawasan tersebut kelompok berpaham radikal semakin kuat dan mengglobal.

“Fundamentalisme dan radikalisme agama ini muncul sebagai reaksi terhadap modernitas. Fundamentalisme, dan radikalisme, juga merupakan reaksi akibat pengalaman ketidakadilan ekonomi dan politik akibat imperialisme gaya baru melalui praktik kapitalisme modern yang cenderung mengeksploitasi sesama dan alam raya demi keuntungan materi,” dia menambahkan.

Menurut dia, tokoh-tokoh kepercayaan dan umat beragama di Indonesia harus merespons situasi tersebut bersama-sama, dan memiliki strategi yang kreatif, kritis, dan positif. “Peranan pemerintah, baik di pusat maupun di daerah, sangat penting dalam membangun sinergi dengan semua umat beragama, terutama juga dalam pengakuan terhadap agama-agama yang selama ini tidak diakui,” kata dia.


art-S.M 7/8/2016

Do’a

Mari kita bertanya? Doa seperti apakah yang dikabulkan Tuhan? Jawabnya, tak sukar-sukar amat sesungguhnya. Doa yang pasti dikabulkan Tuhan ialah yang seturut dengan kehendak Dia.

Doa yang pasti dikabulkan Tuhan ialah doa yang diperkenan Tuhan.

Sebab, Tuhan tak mungkin melawan kehendak-Nya sendiri. Dia pasti akan menggenapi kehendak-Nya sendiri.

Terbuka

Pada titik ini, janganlah kita menjadikan ungkapan ”Jadilah kehendak-Mu” semacam mantera! Tak sedikit orang Kristen berpikir, kalau sudah menutup doanya dengan ungkapan ”Jadilah kehendak-Mu!”, pastilah Tuhan akan mengabulkan-Nya. Apakah benar demikian?

Ungkapan ”Jadilah kehendak-Mu!” sejatinya menyatakan bahwa kita sesungguhnya tidak sungguh-sungguh yakin bahwa doa kita itu memang sesuai dengan kehendak Tuhan. Itu berarti kita terbuka untuk menerima apa saja yang Tuhan berikan kepada kita. Dengan kata lain, sesungguhnya pula hal yang paling penting ialah bagaimana kita mengetahui kehendak Tuhan.

Dalam ajaran-Nya, Yesus memang berbicara banyak mengenai apa yang kita kenal dengan Doa Bapa Kami, tetapi satu hal yang perlu diingat—itu pulalah yang menjadi dasar Doa Bapa Kami—”Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” (Luk. 11:13).

Roh Kudus

Inilah yang seharusnya kita upayakan: memohon Roh Kudus senantiasa menyertai kita. Jika itu yang terjadi, maka kita akan dapat hidup dalam kehendak-Nya. Sehingga, apa pun yang kita pikirkan, katakan, lakukan, pastilah Tuhan berkenan karena Roh Kuduslah yang menggerakkan kita melakukannya. Dan doa semacam itu, pastilah dikabulkan Tuhan. Kalau belum, itu hanyalah soal waktu.

Atau, dalam pemahaman Paulus, sebagaimana suratnya kepada Jemaat di Kolose, ”Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.” (Kol. 2:6-7).

Dengan kata lain, jika kita bersatu dengan Dia, dan berakar di dalam Dia, pastilah kita akan menurut ajaran-Nya. Jika sudah demikian, maka doa kita pun pastilah diperkenankan-Nya.

Sejatinya pula, doa yang diajarkan Yesus, Doa Bapa Kami, hanya mungkin didaraskan jika Roh Kudus sungguh-sungguh diam dalam diri kita.


document arsip / s.m